Entah udah berapa lama gw ga pernah bangun pagi di hari Minggu,
Atau keseringan bangun pagi tapi harus berhadapan sama asap mobil, bus, bajaj, polusi suara motor yang meraung-raung, belom lagi desak-desakan demi masuk kantor on time, dan apesnya kalo kehadang tawuran anak-anak SMA yang pagi-pagi udah bikin dagdigdug (sok tua critanya), tapi nuansa tenang, seger, lengang dan hawa sejuk Jakarta seperti ini serasa lama tak pernah kurasakan. God... Thanks for the lovely Sunday...
*bip..bip..suara sms masuk dari phone cell-ku*
Sebuah emoticon dengan tanda 'titik dua-strip-bintang'. Thanks for brighten up my lovely Sunday Sunshine...
February 24, 2008
February 15, 2008
Reuben father's said...
It's not about what was happened, or what will happen
Or even what will not gonna happen...
Most important thing is enjoy the process...
Coz maybe you wont feel that way again...
Or even what will not gonna happen...
Most important thing is enjoy the process...
Coz maybe you wont feel that way again...
February 12, 2008
The Past
Masa lalu adalah masa lalu.
Pahit, manis, susah, senang, sedih, getir, sakit, bahkan tak terlupakan,
Bagaimanapun wujudnya ia tetap masa lalu.
Kau tak akan pernah sanggup menghilangkannya begitu saja dari hidupmu,
Layaknya seorang David Copperfield yang menghilangkan pesawat airbus di salah satu shownya,
Kau tak akan pernah mampu menghapusnya dari hatimu,
Karena bagaimanapun, ia seolah telah terpatri layaknya besi panas yang menempel pada kuda pacuan,
Maka hentikanlah usahamu, karena semua hanya akan sia-sia saja.
Mulailah menerimanya sebagai sebuah masa lalu.
Cobalah mulai menghargainya sebagai bagian dari kisah panjang pembelajaranmu tentang hidup dan kedewasaan.
Simpanlah dalam sebuah kotak perak mungil bersama rentetan cerita cintamu yang lain.
Tidak perlu kau buang kuncinya, cukup selipkan saja di salah satu locker di dalam hatimu,
Karena suatu saat, adakalanya dimana kau ingin membukanya, membaginya, bahkan tertawa ataupun menangis mengenangnya...
Jangan pernah kau lupakan semua itu.
Karena masa lalulah yang membuatmu menjadi seperti saat ini.
Pahit, manis, susah, senang, sedih, getir, sakit, bahkan tak terlupakan,
Bagaimanapun wujudnya ia tetap masa lalu.
Kau tak akan pernah sanggup menghilangkannya begitu saja dari hidupmu,
Layaknya seorang David Copperfield yang menghilangkan pesawat airbus di salah satu shownya,
Kau tak akan pernah mampu menghapusnya dari hatimu,
Karena bagaimanapun, ia seolah telah terpatri layaknya besi panas yang menempel pada kuda pacuan,
Maka hentikanlah usahamu, karena semua hanya akan sia-sia saja.
Mulailah menerimanya sebagai sebuah masa lalu.
Cobalah mulai menghargainya sebagai bagian dari kisah panjang pembelajaranmu tentang hidup dan kedewasaan.
Simpanlah dalam sebuah kotak perak mungil bersama rentetan cerita cintamu yang lain.
Tidak perlu kau buang kuncinya, cukup selipkan saja di salah satu locker di dalam hatimu,
Karena suatu saat, adakalanya dimana kau ingin membukanya, membaginya, bahkan tertawa ataupun menangis mengenangnya...
Jangan pernah kau lupakan semua itu.
Karena masa lalulah yang membuatmu menjadi seperti saat ini.
February 06, 2008
Wisata MalamKu
Lama aku tidak menyusuri jalanan ini. Hmm... sepertinya ide untuk berjalan-jalan di malam hari boleh juga. Mari kita nikmati..
Aku mengawali wisata malamku dengan menelusuri gang pertama yang kutemui. Dulu, aku sering melihatnya berdiri disitu, sembari mendongakkan kepala, tertawa, bernyanyi keras-keras.
Tawa itu masih ada, nyanyian itupun masih kadang kudengar,
namun tidak dengan menengadah. Ia malu.
Ia malu karena lantang akan nyanyian, bukan alunan mengaji.
Terimakasih, Engkau telah mengingatkannya.
Akupun kembali ke jalan utama, menelusuri gang kedua. Dia masih setia disana. Duduk menanti sambil terkantuk-kantuk, sabar, tak banyak keluhan keluar dari mulutnya. Dia sangat pintar,
apalagi dalam hal menyimpan kesedihannya.
Terimakasih, Engkau telah teguhkan hatinya.
Kini aku mengintip ke gang ketiga. Payung itu. Payung yang setia melindungi dari hujan ataupun panas. Ketika aku mendekat, tiba-tiba payung itu rubuh.
Hancur berkeping-keping. Kulihat mereka menangis.
Ingin aku merengkuh tapi sulit kugerakkan tanganku.
Terimakasih, Engkau dengan segala kuasa-Mu telah menyadarkan kami.
Sejenak ku duduk dan merenungi semuanya. Telah kuhimpun kembali kekuatan. Telah kubangkitkan kembali semangat mereka.
Aku kembali ke jalan utama untuk pulang. Tapi kini dengan harapan baru.
Semoga Engkau tak henti-hentinya membimbing kami.
Aku mengawali wisata malamku dengan menelusuri gang pertama yang kutemui. Dulu, aku sering melihatnya berdiri disitu, sembari mendongakkan kepala, tertawa, bernyanyi keras-keras.
Tawa itu masih ada, nyanyian itupun masih kadang kudengar,
namun tidak dengan menengadah. Ia malu.
Ia malu karena lantang akan nyanyian, bukan alunan mengaji.
Terimakasih, Engkau telah mengingatkannya.
Akupun kembali ke jalan utama, menelusuri gang kedua. Dia masih setia disana. Duduk menanti sambil terkantuk-kantuk, sabar, tak banyak keluhan keluar dari mulutnya. Dia sangat pintar,
apalagi dalam hal menyimpan kesedihannya.
Terimakasih, Engkau telah teguhkan hatinya.
Kini aku mengintip ke gang ketiga. Payung itu. Payung yang setia melindungi dari hujan ataupun panas. Ketika aku mendekat, tiba-tiba payung itu rubuh.
Hancur berkeping-keping. Kulihat mereka menangis.
Ingin aku merengkuh tapi sulit kugerakkan tanganku.
Terimakasih, Engkau dengan segala kuasa-Mu telah menyadarkan kami.
Sejenak ku duduk dan merenungi semuanya. Telah kuhimpun kembali kekuatan. Telah kubangkitkan kembali semangat mereka.
Aku kembali ke jalan utama untuk pulang. Tapi kini dengan harapan baru.
Semoga Engkau tak henti-hentinya membimbing kami.
Subscribe to:
Posts (Atom)