Ditengah kegalauanku menanti kereta yang kan membawaku ke Surabaya,
Ada seseorang yangmencoba berbincang padaku,
Awalnya aku tak ingin peduli, bahkan jujur, aku takut...
Seorang nenek tua berpakaian layaknya pengemis, berbekal kantung plastik dengan memegang puntung rokok yang menyala di sela jari telunjuk dan jari tengahnya,
Entah apa yang dilakukannya di stasiun kereta tengah malam itu, dimana kebanyakan orang lebih memilih untuk tidur nyenyak di rumah, tentu tidak termasuk aku saat itu..
Belum hilang rasa takutku, tiba-tiba ia berujar "Denok ayu, mbah ra' ngapusi, kabeh wong iso ndelok" (red : kamu cantik nak, mbah tidak bohong, semua orang bisa melihatnya)
Wajahku menunjukkan ekspresi bingung dan takut, tapi tetap tak lupa kuucapkan terima kasih atas pujiannya.
Akhirnya percakapan pun mengalir. Mungkin lebih cocok disebut ceritanyalah yang mengalir, karena aku lebih banyak diam dan mendengarkan kisah sang nenek ketimbang ikut menimpali.
Terungkaplah bahwa ia adalah seorang tukang pijat yang sudah hampir 10 tahun tinggal di stasiun, rumahnya dijual karena alasan ekonomi, dan sudah 10 hari terakhir ini ia tidak bekerja karena sakit yang dideritanya. Hanya flu biasa. Namun untuk orang seumurannya, penyakit itu telah menyita energinya, bahkan hanya untuk berjalan..
Ia pun mengeluhkan mahalnya harga nasi Padang yang harus ia beli tapi tak dimakannya karena mulutnya terasa pahit.
Ketika aku masih bergelut dengan rasa iba padanya, sang nenek mengeluarkan isi kantung plastiknya. Beberapa anggur merah dan roti. Ia pun berkata "ini buat nok, ambil saja. Kamu pasti lapar".
Dengan bahasa sehalus mungkin, aku menolak tawarannya. "Buat mbah aja, mbah kan belum sembuh betul". Tapi dalam hatiku, aku terenyuh.
Seorang nenek yang sedang sakit dan bisa dibilang tidak punya uang lebih untuk makan, dengan begitu ikhlas dan legowo membagi makanan miliknya dengan seseorang yang sama sekali tidak dikenalnya (red: aku)
Obrolan kami pun berakhir ketika keretaku tiba,
Akupun undur diri dan ia mendoakan aku agar selamat sampai tujuan,
"Semua akan baik-baik saja, asal kita ikhlas dan tawakal", ucapnya.
Kalimat itu selalu terngiang di telingaku, memenuhi ruang otak dan hatiku,
Tuhan...
Siapapun ia, terima kasih Engkau telah mengirimkan teman malam itu,
Tolong jaga ia baik-baik Tuhan...
July 24, 2007
Going back home...
Tak pernah menyangka aku akan melakukannya demi cinta,
Pada hari Jum'at di minggu ketiga di bulan Juli tepatnya tanggal 19 yang lalu,
Di menit-menit terakhir kegalauanku, usai membaca e-mail dari seorang teman mengenai kesiapan menjelang hasil assesment diumumkan,
Atas dorongan hati dan teman terdekat,
Aku memutuskan untuk pulang. Yup, pulang...
Dengan berbekal rasa nekat serta hati yang dag-dig-dug tak jelas bagaimana iramanya,
Akupun membeli tiket kereta jurusan Semarang-Surabaya yang berangkat malam itu juga, sekitar pukul 01.32 dini hari,
"Pulang??? naik apa??? jam berapa?? koq ndadak???", tanya Matahari.
"Iya, ntar malem naik Sembrani jam setengah dua", ujarku.
"Setengah dua??? trus ke stasiunnya naik apa?? kamu ati-ati ya, koq nekat sih??", kembali ia mengkhawatirkanku.
"Gampanglah, naik taksi bisa. Pokoknya besok pagi jemput yah...", jawabku meyakinkan.
Akhirnya, dengan mengumpulkan segenap keberanian aku berangkat ke stasiun naik taksi yang telah kupesan sebelumnya.
Namun ternyata, perjalananku tak semulus itu. Aku masih harus menunggu sekitar satu jam, karena kereta yang akan membawaku, terlambat tiba.
Dengan berbekal jaket dan novel yang tak kunjung habis kubaca, maka tepat pukul 02.25 aku meninggalkan stasiun Tawang menuju Surabaya...
Lelahku, kantukku, galauku, lenyap seketika...
begitu kulihat senyum matahari pagi itu yang menyambutku dengan penuh rasa bahagia...
"Honey, i'm home..."
Pada hari Jum'at di minggu ketiga di bulan Juli tepatnya tanggal 19 yang lalu,
Di menit-menit terakhir kegalauanku, usai membaca e-mail dari seorang teman mengenai kesiapan menjelang hasil assesment diumumkan,
Atas dorongan hati dan teman terdekat,
Aku memutuskan untuk pulang. Yup, pulang...
Dengan berbekal rasa nekat serta hati yang dag-dig-dug tak jelas bagaimana iramanya,
Akupun membeli tiket kereta jurusan Semarang-Surabaya yang berangkat malam itu juga, sekitar pukul 01.32 dini hari,
"Pulang??? naik apa??? jam berapa?? koq ndadak???", tanya Matahari.
"Iya, ntar malem naik Sembrani jam setengah dua", ujarku.
"Setengah dua??? trus ke stasiunnya naik apa?? kamu ati-ati ya, koq nekat sih??", kembali ia mengkhawatirkanku.
"Gampanglah, naik taksi bisa. Pokoknya besok pagi jemput yah...", jawabku meyakinkan.
Akhirnya, dengan mengumpulkan segenap keberanian aku berangkat ke stasiun naik taksi yang telah kupesan sebelumnya.
Namun ternyata, perjalananku tak semulus itu. Aku masih harus menunggu sekitar satu jam, karena kereta yang akan membawaku, terlambat tiba.
Dengan berbekal jaket dan novel yang tak kunjung habis kubaca, maka tepat pukul 02.25 aku meninggalkan stasiun Tawang menuju Surabaya...
Lelahku, kantukku, galauku, lenyap seketika...
begitu kulihat senyum matahari pagi itu yang menyambutku dengan penuh rasa bahagia...
"Honey, i'm home..."
Subscribe to:
Posts (Atom)