Lama aku tidak menyusuri jalanan ini. Hmm... sepertinya ide untuk berjalan-jalan di malam hari boleh juga. Mari kita nikmati..
Aku mengawali wisata malamku dengan menelusuri gang pertama yang kutemui. Dulu, aku sering melihatnya berdiri disitu, sembari mendongakkan kepala, tertawa, bernyanyi keras-keras.
Tawa itu masih ada, nyanyian itupun masih kadang kudengar,
namun tidak dengan menengadah. Ia malu.
Ia malu karena lantang akan nyanyian, bukan alunan mengaji.
Terimakasih, Engkau telah mengingatkannya.
Akupun kembali ke jalan utama, menelusuri gang kedua. Dia masih setia disana. Duduk menanti sambil terkantuk-kantuk, sabar, tak banyak keluhan keluar dari mulutnya. Dia sangat pintar,
apalagi dalam hal menyimpan kesedihannya.
Terimakasih, Engkau telah teguhkan hatinya.
Kini aku mengintip ke gang ketiga. Payung itu. Payung yang setia melindungi dari hujan ataupun panas. Ketika aku mendekat, tiba-tiba payung itu rubuh.
Hancur berkeping-keping. Kulihat mereka menangis.
Ingin aku merengkuh tapi sulit kugerakkan tanganku.
Terimakasih, Engkau dengan segala kuasa-Mu telah menyadarkan kami.
Sejenak ku duduk dan merenungi semuanya. Telah kuhimpun kembali kekuatan. Telah kubangkitkan kembali semangat mereka.
Aku kembali ke jalan utama untuk pulang. Tapi kini dengan harapan baru.
Semoga Engkau tak henti-hentinya membimbing kami.