September 14, 2016

Izakod Bekai Izakod Kai

“Satu Hati Satu Tujuan”. Itu adalah motto masyarakat Papua. Dan motto itu jugalah yang membawa saya akhirnya memilih untuk melakukan sebuah perjalanan bisnis ke Merauke, wilayah paling ujung NKRI. Bermula dari sekedar pemenuhan tugas audit rutin tahunan menjadi keinginan untuk menjelajah pelosok Indonesia.
Berangkatlah saya ke Merauke dari Jakarta dengan menggunakan pesawat pukul 23.20 WIB. Perjalanan yang dibutuhkan untuk mencapai Merauke adalah sekitar 7-8 jam, karena adanya perbedaan waktu 2 jam antara Jakarta dan Merauke. Belum apa-apa saya sudah dibuat berdecak kagum ketika pesawat yang saya tumpangi harus mendarat sebentar (transit) di Bandar Udara Internasional Sentani, Jayapura. Bandara Sentani tertata rapi dibalik rentetan hamparan hijau pegunungan Jayawijaya. Begitu tenang dan damai…
:: view saat akan landing di Sentani, bandaranya dibalik gunung ::


:: Bandar Udara Mopah, Merauke ::

Setelah 30 menit transit, saya meneruskan kembali perjalanan ke Merauke. Saya tiba di kota Merauke pukul 08.50 WIT. Sekilas tidak ada yang berbeda antara kota Merauke dengan kota-kota di Pulau Jawa. Terlebih lagi karena disini merupakan salah satu daerah transmigran jadi banyak suku Jawa yang saya temui. Mereka sebagian besar dibawa oleh orang tua nya yang transmigran. Jadi mereka lahir dan besar di Merauke.

Ketika di Merauke, saya kemudian menyempatkan diri untuk menuju ke wilayah paling timur, sekitar 2 jam dari Merauke, Sota namanya. Sota merupakan wilayah perbatasan antara Indonesia dengan Papua New Guinea. Disana saya melihat Tugu Perbatasan yang dibangun bersama oleh tentara Indonesia dan Australia. Disana juga ada rumah semut, yang tingginya tidak main-main, sekitar 3-4 meter. Rumah semut ini cukup terkenal rupanya. 
:: rumah semut ::

:: Tugu Perbatasan NKRI - PNG ::

:: Gapura Perbatasan ::

Dan karena perjalanan saya kesana, ternyata saya pun mendapat sebuah sertifikat penghargaan dari Polisi Penjaga Tugu Perbatasan Sota, Bapak Makruf Suroto. Beliau adalah sosok polisi yang berdedikasi tinggi terhadap kelestarian area perbatasan. Bahkan saya juga baru tau kalo beliau sempat mengarang lagu tentang perbatasan Sota. 
:: Piagam Penghargaan Batas Negeri (maaf kebalik)::

Satu hati, satu tujuan. Saya rasa motto itupun sudah melekat kuat di hati Pak Makruf. Bahwa sampai kapanpun, ia dan seluruh masyarakat Merauke akan selalu bersatu, menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.