“Satu Hati Satu Tujuan”. Itu
adalah motto masyarakat Papua. Dan motto itu jugalah yang membawa saya akhirnya
memilih untuk melakukan sebuah perjalanan bisnis ke Merauke, wilayah paling
ujung NKRI. Bermula dari sekedar pemenuhan tugas audit rutin tahunan menjadi
keinginan untuk menjelajah pelosok Indonesia.
Berangkatlah saya ke Merauke dari Jakarta dengan menggunakan pesawat pukul 23.20 WIB. Perjalanan yang dibutuhkan untuk mencapai Merauke adalah sekitar 7-8 jam, karena adanya perbedaan waktu 2 jam antara Jakarta dan Merauke. Belum apa-apa saya sudah dibuat berdecak kagum ketika pesawat yang saya tumpangi harus mendarat sebentar (transit) di Bandar Udara Internasional Sentani, Jayapura. Bandara Sentani tertata rapi dibalik rentetan hamparan hijau pegunungan Jayawijaya. Begitu tenang dan damai…
Berangkatlah saya ke Merauke dari Jakarta dengan menggunakan pesawat pukul 23.20 WIB. Perjalanan yang dibutuhkan untuk mencapai Merauke adalah sekitar 7-8 jam, karena adanya perbedaan waktu 2 jam antara Jakarta dan Merauke. Belum apa-apa saya sudah dibuat berdecak kagum ketika pesawat yang saya tumpangi harus mendarat sebentar (transit) di Bandar Udara Internasional Sentani, Jayapura. Bandara Sentani tertata rapi dibalik rentetan hamparan hijau pegunungan Jayawijaya. Begitu tenang dan damai…
![]() |
| :: view saat akan landing di Sentani, bandaranya dibalik gunung :: |
![]() |
| :: Bandar Udara Mopah, Merauke :: |
Setelah 30 menit transit, saya
meneruskan kembali perjalanan ke Merauke. Saya tiba di kota Merauke pukul 08.50
WIT. Sekilas tidak ada yang berbeda antara kota Merauke dengan kota-kota di Pulau
Jawa. Terlebih lagi karena disini merupakan salah satu daerah transmigran jadi
banyak suku Jawa yang saya temui. Mereka sebagian besar dibawa oleh orang tua
nya yang transmigran. Jadi mereka lahir dan besar di Merauke.
Ketika di Merauke, saya kemudian menyempatkan
diri untuk menuju ke wilayah paling timur, sekitar 2 jam dari Merauke, Sota
namanya. Sota merupakan wilayah perbatasan antara Indonesia dengan Papua New
Guinea. Disana saya melihat Tugu Perbatasan yang dibangun bersama oleh tentara
Indonesia dan Australia. Disana juga ada rumah semut, yang tingginya tidak
main-main, sekitar 3-4 meter. Rumah semut ini cukup terkenal rupanya.
![]() |
| :: rumah semut :: |
![]() |
| :: Tugu Perbatasan NKRI - PNG :: |
![]() |
| :: Gapura Perbatasan :: |
Dan
karena perjalanan saya kesana, ternyata saya pun mendapat sebuah sertifikat penghargaan
dari Polisi Penjaga Tugu Perbatasan Sota, Bapak Makruf Suroto. Beliau adalah sosok polisi yang berdedikasi
tinggi terhadap kelestarian area perbatasan. Bahkan saya juga baru tau kalo beliau sempat mengarang lagu tentang perbatasan Sota.
![]() |
| :: Piagam Penghargaan Batas Negeri (maaf kebalik):: |
Satu hati, satu tujuan. Saya rasa motto itupun sudah melekat kuat di hati Pak Makruf. Bahwa sampai kapanpun, ia dan seluruh masyarakat Merauke akan selalu bersatu, menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.





