Lama hal ini ga gw rasain. Ntah kenapa gw jadi begitu excited buat nonton perhelatan besar Java Jazz 2009. Padahal awalnya keinginan itu cuma menthok sampe kepingin doang. Mungkin karena akhirnya ada kesempatan dan kawan yang menemani. Gejolak itu dimulai sejak gw dapet tawaran buat nemenin temen dari Bandung nonton acara itu dengan membayar setengah dari harga regular ticket. Kebetulan memang gw sedang berada di jakarta alias lagi ga dinas luar kota. Obrol sana sini diputuskan bahwa peserta bertambah 3 orang lagi. Waaaa...seruuu...Cuma, berhubung gw yang soooooo excited, jadilah gw yg harus cari2 tiket buat mereka bertiga. After browsing 2 hari, gw dapet tiket daily pass seharga 500 ribu buat 2 orang, karena ternyata temen gw yang satu batal nonton. Eh, gw ga beli di calo lho..gw beli punya orang yang ga jadi nonton. Trus bela-belain antri tiket buat gw sendiri yang setengahan ma temen gw for 1,5 hours. Pfiuhh..thanks to gochay udah nemenin :)
Dan akhirnya, the Big Day!!! 4 girls went out to concert. It’s like some college girls had a girl nite out. Brought some euphoria to the world… singing, laughing, hang out together… berpindah dari satu hall ke hall yang lain, mencari cari jadwal pertunjukan untuk kemudian menentukan strategi yang cukup baik sehingga kami bisa melihat seluruh performance terbaik, tiring but quite fun.
Di perjalanan pulang kami pun membuat kesepakatan kecil bahwa kami akan datang lagi tahun depan. Semoga.
Ada untungnya juga aku ikut dalam tim master program. Setidaknya aku bisa mengunjungi kota-kota yang belum pernah aku kunjungi sebelumnya. Dan yang mendapat giliran kali ini adalah Makassar.
Sore itu, sepulang dari berkeliling ke Pulau Kahyangan, bersama seorang rekan, kami berinisiatif untuk menikmati senja di Pantai Losari. Kebetulan kami menginap tepat di pinggir pantai itu. Kami pun menyempatkan diri untuk membeli Pisang Epe’ yang ternyata memang enak. Pisang panas yang disiram dengan gula merah cair dan dicampur aroma durian. Cukup unik.
Tapi ternyata penganan khas Makassar itu tidak bisa kunikmati dengan lahap. Saat aku dan temanku baru akan menikmati penganan itu, tiba-tiba muncul 2 orang anak kecil meminta-minta. Awalnya kami cuek, namun lama kelamaan mereka cukup mengganggu dengan tidak mau pergi dari tempat kami duduk. Temanku pun merogoh kocek 1000 perak untuk anak-anak itu. Hasilnya sama saja. Entah kenapa mereka betah sekali menunggui kami. Aku pun melanjutkan acara makan pisang epe’ku. Baru setengah kugigit, mendadak aku dikerubutin hampir 10 orang anak kecil yang entah dari mana datangnya yang mencoba meminta-minta kepadaku. Tidak hanya uang. Mereka juga menginginkan pisang epe’ku. Karena merasa jiwaku terancam, akhirnya aku pasrahkan sisa pengananku kepada mereka termasuk yang sudah kugigit setengah tadi.
Mendadak aku merasa ngeri. Apakah ini salah satu bentuk premanisme terhadap kaum pendatang di Makassar, atau memang seperti inilah kondisi kemiskinan dan kelaparan di sana sampai-sampai mengesampingkan etika dan adat kesopanan ?
Awalnya aku ga pernah minat untuk tahu apa dan berapa penilaian atasanku terhadapku. Tapi mendadak siang itu, secara tidak sengaja ketika aku diminta untuk mendistribusikan penilaian seluruh pekerja aku pun tergelitik untuk mencari tahu. Perlahan kususuri nama-nama yang tertulis di daftar itu, yup. Disitu. Aku melihat namaku. Tapi tunggu dulu, berulang kali aku memastikan bahwa benar namaku yang tertulis di baris itu. 4 …??? Tak hentinya aku bertanya pada diriku sendiri apa yang salah pada diriku sehingga aku bisa mendapat nilai itu. Rekan kerjaku pun mencoba menjelaskan bahwa iapun tidak setuju dengan angka tersebut, meskipun ia pribadi memperoleh angka 6, diatas rata-rata. Dampak kurva distribusi normal ujarnya. Level kami ternyata di sejajarkan dengan para kepala lokasi yang menurut “pihak penilai” tidak layak apabila seorang kepala mendapat nilai buruk / dibawah rata-rata, jadi kamilah korbannya. Namun, kenapa aku harus disejajarkan dengan orang-orang yang kerjanya ga jelas, lebih banyak main games dan nonton b*k*p bahkan lebih rendah ketimbang seorang sekretaris yang notabene-nya hanya melakukan pekerjaan administrative.
Belum lagi pra syarat untuk mengikuti beasiswa S2, Transformation Leadership, dan hal-hal yang berkaitan dengan pengembangan karir adalah “diharamkan nilai 4”. Lantas, apakah ini tidak sama saja dengan mematikan karir orang ???
Untuk apa digembar gemborkan bahwa penilaian dilakukan secara online, fair menggunakan system jika ujung-ujungnya masih ada pembicaraan yang justru bisa mengubah nilai itu sendiri ?
Untuk apa aku harus bekerja keras, pulang larut menyelesaikan pekerjaan, jika aku hanya dihargai dengan angka 4 ? mungkin sebaiknya aku perbanyak main games, nemplok dari meja satu ke meja lainnya, berhahahihi dengan para atasan sudah cukup mendapat angka 4 atau justru lebih.
Apakah mereka tidak pernah berpikir bahwa ini semua dapat mempengaruhi psikis pekerja ? hanya karena aku anak baru apakah harus seperti itu perlakuannya ? kenapa semua orang harus mendewakan sebuah kurva distribusi normal demi dianggap fair dalam memberi nilai kepada pekerja ? dimana penghormatan kita terhadap system yang kita buat sendiri ? aku semakin bingung, antara ketidakpercayaanku pada kemampuan diriku dengan ketidakberdayaanku untuk menerima semua keputusan ini. Masih dapatkah ini diubah ? kenapa tidak ada yang menolongku ? tidak layakkah aku berada disini ? tidak diinginkankah aku disini ?
Terlalu banyak pertanyaan yang ada di otakku.