March 13, 2009

System vs Tolerance

Awalnya aku ga pernah minat untuk tahu apa dan berapa penilaian atasanku terhadapku. Tapi mendadak siang itu, secara tidak sengaja ketika aku diminta untuk mendistribusikan penilaian seluruh pekerja aku pun tergelitik untuk mencari tahu. Perlahan kususuri nama-nama yang tertulis di daftar itu, yup. Disitu. Aku melihat namaku. Tapi tunggu dulu, berulang kali aku memastikan bahwa benar namaku yang tertulis di baris itu. 4 …??? Tak hentinya aku bertanya pada diriku sendiri apa yang salah pada diriku sehingga aku bisa mendapat nilai itu. Rekan kerjaku pun mencoba menjelaskan bahwa iapun tidak setuju dengan angka tersebut, meskipun ia pribadi memperoleh angka 6, diatas rata-rata. Dampak kurva distribusi normal ujarnya. Level kami ternyata di sejajarkan dengan para kepala lokasi yang menurut “pihak penilai” tidak layak apabila seorang kepala mendapat nilai buruk / dibawah rata-rata, jadi kamilah korbannya. Namun, kenapa aku harus disejajarkan dengan orang-orang yang kerjanya ga jelas, lebih banyak main games dan nonton b*k*p bahkan lebih rendah ketimbang seorang sekretaris yang notabene-nya hanya melakukan pekerjaan administrative. 

Belum lagi pra syarat untuk mengikuti beasiswa S2, Transformation Leadership, dan hal-hal yang berkaitan dengan pengembangan karir adalah “diharamkan nilai 4”. Lantas, apakah ini tidak sama saja dengan mematikan karir orang ???

Untuk apa digembar gemborkan bahwa penilaian dilakukan secara online, fair menggunakan system jika ujung-ujungnya masih ada pembicaraan yang justru bisa mengubah nilai itu sendiri ?

Untuk apa aku harus bekerja keras, pulang larut menyelesaikan pekerjaan, jika aku hanya dihargai dengan angka 4 ? mungkin sebaiknya aku perbanyak main games, nemplok dari meja satu ke meja lainnya, berhahahihi dengan para atasan sudah cukup mendapat angka 4 atau justru lebih. 

Apakah mereka tidak pernah berpikir bahwa ini semua dapat mempengaruhi psikis pekerja ? hanya karena aku anak baru apakah harus seperti itu perlakuannya ? kenapa semua orang harus mendewakan sebuah kurva distribusi normal demi dianggap fair dalam memberi nilai kepada pekerja ? dimana penghormatan kita terhadap system yang kita buat sendiri ? aku semakin bingung, antara ketidakpercayaanku pada kemampuan diriku dengan ketidakberdayaanku untuk menerima semua keputusan ini. Masih dapatkah ini diubah ? kenapa tidak ada yang menolongku ? tidak layakkah aku berada disini ? tidak diinginkankah aku disini ? 

Terlalu banyak pertanyaan yang ada di otakku.

1 comment:

  1. sabar ya ka!! emg kadang-kadang orang lain suka buat orang lain susah.
    ga bisa paham perasaan dan hasil jerih payah kita.
    biar aja ka!! God never sleeps!!!
    keep smiling :)

    ReplyDelete