March 13, 2009

Premanisme Makassar

Ada untungnya juga aku ikut dalam tim master program. Setidaknya aku bisa mengunjungi kota-kota yang belum pernah aku kunjungi sebelumnya. Dan yang mendapat giliran kali ini adalah Makassar. 

Sore itu, sepulang dari berkeliling ke Pulau Kahyangan, bersama seorang rekan, kami berinisiatif untuk menikmati senja di Pantai Losari. Kebetulan kami menginap tepat di pinggir pantai itu. Kami pun menyempatkan diri untuk membeli Pisang Epe’ yang ternyata memang enak. Pisang panas yang disiram dengan gula merah cair dan dicampur aroma durian. Cukup unik. 

Tapi ternyata penganan khas Makassar itu tidak bisa kunikmati dengan lahap. Saat aku dan temanku baru akan menikmati penganan itu, tiba-tiba muncul 2 orang anak kecil meminta-minta. Awalnya kami cuek, namun lama kelamaan mereka cukup mengganggu dengan tidak mau pergi dari tempat kami duduk. Temanku pun merogoh kocek 1000 perak untuk anak-anak itu. Hasilnya sama saja. Entah kenapa mereka betah sekali menunggui kami. Aku pun melanjutkan acara makan pisang epe’ku. Baru setengah kugigit, mendadak aku dikerubutin hampir 10 orang anak kecil yang entah dari mana datangnya yang mencoba meminta-minta kepadaku. Tidak hanya uang. Mereka juga menginginkan pisang epe’ku. Karena merasa jiwaku terancam, akhirnya aku pasrahkan sisa pengananku kepada mereka termasuk yang sudah kugigit setengah tadi.

Mendadak aku merasa ngeri. Apakah ini salah satu bentuk premanisme terhadap kaum pendatang di Makassar, atau memang seperti inilah kondisi kemiskinan dan kelaparan di sana sampai-sampai mengesampingkan etika dan adat kesopanan ?

No comments:

Post a Comment