May 11, 2008

what if..

semua bertanya. entah berharap atau sekedar basa basi. pertanyaan yang sama setiap saat.
aku pun menjawab dengan jawaban yang selalu sama. "tidak dalam waktu dekat ini".
ada yang berujar jangan kelamaan, ntar ketuaan, jangan keenakan cari duit, jangan banyak milih-milih, dan segala macam pembelaan diri mereka atas sanggahan dari jawabanku.
nothing's wrong with that. semua sanggahan itu benar adanya. tapi terkadang ingin rasanya aku bertanya kepada mereka,

seandainya mereka berada di posisiku,
seorang anak tunggal yang mau tidak mau harus meringankan beban orang tuanya ketika orang tuanya have nothing to do and maybe don't know what to do to continue their life,
seorang anak yang sangat diharapkan bisa tetap bekerja di perusahaan 'sapi perah' nasional,
seorang anak yang tidak bisa menolak dorongan kata hati untuk menyayangi teman seperjuangan meskipun dengan resiko perusahaan yang cukup menguras otak,

seandainya mereka berada di posisiku,
mampukah bersikap egois untuk memikirkan masa depan rumah tangga yang ingin dijalani bersama sang terkasih?

aku hanya tak mampu bertanya...

stop it please...

Habis gw ngebaca blog salah satu temen gw, gw makin gerah. Belakangan gw cukup capek untuk dinas keluar kota yang bisa dibilang lumayan sering. Meskipun Bandung merupakan kota yang cukup diminati untuk melepas stress, ngga' buat gw, karena gw dateng kesana membawa stress!!

Setiap pulang, bukan kesegaran tubuh dan pikiran yg gw dapet, tapi lelah berkepanjangan ngerasain kerjaan yang ga ada habisnya...

Di satu sisi, senang rasanya menjadi andalan oleh rekan kerja, dianggap mampu, tapi lama-lama kenapa semua pekerjaan seolah makin kencang berlari berkejaran saling berebut perhatian gw..?? 
weekdays yang dihabiskan untuk dinas, berharap weekend tidak berlalu begitu cepat,
namun terpaksa dipenuhi dengan pekerjaan yang harus segera diselesaikan..

Ya Allah...maafkan hambaMu yang ga punya rasa bersyukur atas semua karunia yang Kau berikan.

I just need a break...

April 17, 2008

Sounds familiar...

Sebuah ruangan dengan laptop dan infocus di barisan depan, empat buah pendingin ruangan dengan kisaran suhu masing-masing 16 oC, cukup membuat 15 peserta enggan menanggalkan jaketnya. Adapula meja panjang dengan cover kain berwarna hijau tua berhiaskan lipitan di setiap sisinya, sedang diatasnya tak luput sebotol air mineral, gelas berkaki, secawan permen pencegah kantuk, papan nama dan sebuah odner. Kondisi ini kudapati selama 4 hari di kota kembang.

Seperti mengingatkanku pada satu masa. Simprug's classroom. 
Yeah, sounds familiar...


March 19, 2008

1 : 1

Kita manusia,
Kita setara,
Satu Adam diciptakan untuk satu Hawa,
Dan satu Hawa diciptakan untuk satu Adam...
Satu banding satu.
Begitulah asal mulanya,
Dan begitulah takdirnya…

March 11, 2008

"------"

Lorong ini cukup panjang
Terlalu panjang bahkan untuk kulalui sendiri
Jika sunyi adalah jawabmu,
Maka bersuaralah pintaku
Atau teriak jika kau mau
Agar aku tak lagi sendiri
Menerka cahaya terang dibalik sunyi
Demi mencari akhir dari lorong panjang ini
Tidak sendiri, tapi denganmu harapku

Happy Belated Valentine's Day

Ini bukan kisah cinta-cintaan. Ini juga bukan reality show tentang mengungkapkan rasa cinta. Tapi siang itu, a little romance happened to me. Selepas makan siang sekaligus menemui beberapa kerabatnya di luar kantor, demi memenuhi janjinya untuk membawakanku oleh-oleh, alih-alih membawa selusin J-Co Donuts, ia datang sembari meletakkan gulungan koran di hadapanku yang sedang asyik bermain dengan angka-angka di layar komputer. Ketika aku membukanya, ternyata sebatang mawar coklat Toblerone sepanjang kurang lebih 50 cm. And everyone looked at me.



Thanks Mr. Humphry. Happy belated valentine’s too…