October 22, 2018

In teaching others, we teach ourselves

Monday, 03 September 2018. That monday was different than it used to be. Catching up the earlier train, penetrate the congestion in Central Jakarta when the sun was just greets good morning, only to see the smiling face of some students of SDSN Kayu Putih 09.

Yup, that morning, me and some of my friends got a new assignment. That day we’re not dealing with laptop and paperwork all day long, but we’re facing almost 30 kiddos in each class. We were joined in Pertamina Energi Negeri (PEN) team, try to introduce them what is Pertamina role in our beloved country, raise their spirit to keep dreaming, to put their dreams as high as the sky and make it real.

:: Tim Pertamina Energi Negeri 3 ::
It was my second duty as a documenter team on CCA (culture change agent) event, but first time on Pertamina Energi Negeri. I learn a lot of things by catching the smiles, the laughter, the innocence yet silly faces of the kiddos.  It makes me feel so grateful, and realize that there are still many weaknesses in me. By seeing their spirit, I realized that our future is on their hands, they are the next leader in this country, we put our trust, our hope, and our du’a on them…

It was a great feeling I had, great memories and best experience I’ve ever have. By teaching others, we teach ourselves..


:: SDSN Kayu Putih 09 ::


May 03, 2018

Hujan dan Pelangi

Apapun yang terjadi, apapun yang kau alami
Bersabarlah..

Sekencang apapun petir, sederas apapun hujan badai
Nikmatilah..

Karena di ujung penghujan akan tetap ada pelangi
Yang selalu muncul dengan senyuman
Yang setia menyuguhkan warna-warni indah

Yang akan datang untuk memelukmu erat,
dan berkata semua akan baik-baik saja

April 12, 2018


Now it’s your turn Mom…

Huff, speechless…

You teach me all I need to know to be a girl, a woman, a wife and also a mother..
You hear my problems, you wipe my tears, you hold my hands, you are my best medicine
We arguing and hurting each other with words, but at the end we hugging and forgive each other
Sometimes we even more like friend-sister than mother-daughter
You teach me how to love, to be strong, to be tough yet patient..
You keep the spirit and hope through our ups and downs
You gave all you have for me, for dad, for our family..
There’s nothing in this world could describe how much I love you,
Not a thousand flowers, not a hundred words, not even a beautiful cakes

Mom, thanks for always be with me, stay beside me stepping one by one my life stage, keeping my name on your du’a every single day.. 

Forgive me  that still bothering you with all my things. It’s always about me, my child, my family, but less about you..  


Dear Allah, i know she never ask me anything but keep praying for her and also Dad so we can be together ‘til Jannah. 

So now,  I’m asking You, please take good care of my parents, like what they already did it to me when I was a child..


Barakallah fii umriik ya Ma, Sehat, Sabar, Senang!!! 

I Love You Ma!!!!

October 11, 2017

Love Letter to Princess

Dear Kekey,

Selamat ulang tahun ya nak. Semoga segala mimpi, angan, harapan dan cita-cita mu dikabulkan Allah SWT.

Mama cuma pingin Kekey tau, bahwa sejauh apapun Kekey pergi, akan selalu ada Mama disini.

Meskipun Mama sering tidak berada di dekatmu, percayalah kalau Mama selalu memikirkanmu.

Terima kasih sudah memberikan kesempatan untuk Mama belajar banyak hal. Terima kasih atas segala pertengkaran, tangisan, canda dan tawa kita bersama.

Mama masih harus belajar lebih banyak lagi Nak untuk memahamimu.

Semoga duniamu bisa menjadi dunia sesuai harapanmu. Kalaupun tidak, yakinlah, ada Allah tempatmu mengadu, berkeluh kesah. Dan ada Mama yang akan selalu memelukmu.

Jadilah anak yang ilmunya luas, memiliki pergaulan yang luas dan selalu dicintai semua orang. Seperti doa yang Mama selipkan dalam arti namamu.

11 Oktober 2017

September 14, 2016

Izakod Bekai Izakod Kai

“Satu Hati Satu Tujuan”. Itu adalah motto masyarakat Papua. Dan motto itu jugalah yang membawa saya akhirnya memilih untuk melakukan sebuah perjalanan bisnis ke Merauke, wilayah paling ujung NKRI. Bermula dari sekedar pemenuhan tugas audit rutin tahunan menjadi keinginan untuk menjelajah pelosok Indonesia.
Berangkatlah saya ke Merauke dari Jakarta dengan menggunakan pesawat pukul 23.20 WIB. Perjalanan yang dibutuhkan untuk mencapai Merauke adalah sekitar 7-8 jam, karena adanya perbedaan waktu 2 jam antara Jakarta dan Merauke. Belum apa-apa saya sudah dibuat berdecak kagum ketika pesawat yang saya tumpangi harus mendarat sebentar (transit) di Bandar Udara Internasional Sentani, Jayapura. Bandara Sentani tertata rapi dibalik rentetan hamparan hijau pegunungan Jayawijaya. Begitu tenang dan damai…
:: view saat akan landing di Sentani, bandaranya dibalik gunung ::


:: Bandar Udara Mopah, Merauke ::

Setelah 30 menit transit, saya meneruskan kembali perjalanan ke Merauke. Saya tiba di kota Merauke pukul 08.50 WIT. Sekilas tidak ada yang berbeda antara kota Merauke dengan kota-kota di Pulau Jawa. Terlebih lagi karena disini merupakan salah satu daerah transmigran jadi banyak suku Jawa yang saya temui. Mereka sebagian besar dibawa oleh orang tua nya yang transmigran. Jadi mereka lahir dan besar di Merauke.

Ketika di Merauke, saya kemudian menyempatkan diri untuk menuju ke wilayah paling timur, sekitar 2 jam dari Merauke, Sota namanya. Sota merupakan wilayah perbatasan antara Indonesia dengan Papua New Guinea. Disana saya melihat Tugu Perbatasan yang dibangun bersama oleh tentara Indonesia dan Australia. Disana juga ada rumah semut, yang tingginya tidak main-main, sekitar 3-4 meter. Rumah semut ini cukup terkenal rupanya. 
:: rumah semut ::

:: Tugu Perbatasan NKRI - PNG ::

:: Gapura Perbatasan ::

Dan karena perjalanan saya kesana, ternyata saya pun mendapat sebuah sertifikat penghargaan dari Polisi Penjaga Tugu Perbatasan Sota, Bapak Makruf Suroto. Beliau adalah sosok polisi yang berdedikasi tinggi terhadap kelestarian area perbatasan. Bahkan saya juga baru tau kalo beliau sempat mengarang lagu tentang perbatasan Sota. 
:: Piagam Penghargaan Batas Negeri (maaf kebalik)::

Satu hati, satu tujuan. Saya rasa motto itupun sudah melekat kuat di hati Pak Makruf. Bahwa sampai kapanpun, ia dan seluruh masyarakat Merauke akan selalu bersatu, menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

May 12, 2016

Sepenggal cerita dari negeri seberang...

Somehow saya ditunjuk mewakili perusahaan tempatku bekerja untuk melaksanakan sebuah perjalanan dinas ke China. Senang, nervous, bingung kumpul jadi satu. It’s my first time going to China. Akhirnya hari minggu subuh tanggal 3/4 rombongan kami (ber-11 orang) pun take off ke China via Hongkong. Perjalanan Jkt – Hongkong memakan waktu 5 jam, sedangkan Hongkong – Chongqing (China) 2 jam. Dan tibalah kami di Chongqing, sebuah kota yang merupakan industrial district tempat dimana sebagian besar produsen otomotif bermula.
:: @ Honeywell Automation China ::

Chongqing memiliki suasana yang cukup menyenangkan, udaranya sejuk, kebetulan kemarin saya kesana tepat saat spring time, jadi cukup menyegarkan mata melihat warna warni bunga dimana-mana.
:: taman kota di depan kantor Honeywell China ::

Untuk soal makanan, hmmm relatif agak susah sih untuk lidah orang Indonesia macam saya..disana mungkin karena melihat kami dominan Moslem, maka kami disuguhkan berbagai macam menu halal, seperti kambing bakar, sate kambing, bebek panggang, ayam, seafood. Namun yang membuat berbeda adalah pada bumbu yang dipakai. Di China, mereka lebih sering menggunakan cabai kering dan pepper corn, atau merica yg segede jagung…jadi ya bisa dibayangkan lah ya pedesnya kaya gimana…oia mereka juga sering menggunakan berbagai macam bunga dalam masakan (saya sempat makan akar bunga lotus, dan rasanya menurut saya seperti ubi, hahahahha).
:: menu di salah satu halal restaurant "all about lamb" ::

Di saat free time kami sempat mencoba salah satu transportasi umum dsana berupa high speed train, dimana kecepatan rata2nya adalah 295 km/hour (wow!!) berasa naik pesawat tapi dengan suara yang cukup tenang… selanjutnya kami juga menikmati keramaian kota tua di salah satu sudut kota Chongqing dan di malam harinya kami menyusuri sungai Yang Tze dengan sebuah ferry, sebagian besar orang memilih untuk duduk di outdoor agar dapat menikmati suasana malam kota Chongqing. Untuk bisa masuk ke kursi VIP (karena free seat nya udah penuh) kami harus membayar sekitar 400k IDR (dibayarin sih tepatnya...heheheh) 
:: nyobain high speed train, stasiunnya aja kaya bandara, baguuuss... ::

:: visit to kota tua, banyak pernak pernik tradisional ::

:: diatas ferry yang mengelilingi Yang Tze river ::

:: The famous Yang Tze River ::

Namun satu hal yang tidak dapat dilupakan adalah toilet. Yak, jangan pernah berharap menemukan toilet yang bersih disini kecuali di hotel tempat saya menginap. Seluruh tempat kondisinya bau dan kotor. Kalo ga kebelet, saya lebih baik buang air kecil di hotel sahaja.

Di hari terakhir sebelum ke bandara kami menyempatkan diri untuk melakukan ritual Friday praying (Sholat Jumat) di satu-satunya masjid di Chongqing. Disaat sebagian besar orang yang saya temui di China tidak terlalu ramah dan sedikit yang bisa berbahasa inggris, disaat dimana begitu sulit mencari masjid, mushola bahkan praying room di seluruh area perkantoran, hotel maupun public area, Maka ketika saya bertemu orang2 moslem di masjid itu, disana saya merasa begitu bersyukur, teduh hati ini ketika melihat orang2 dari penjuru manapun datang ksana untuk sholat dan semuanya menyapa dengan satu Bahasa, “salam..”

:: Satu-satunya Masjid di Kota Chongqing ::
:: muka girang karena mau pulang ke Indo ::
Terima kasih Ya Allah atas karuniamu hingga aku bisa menginjakkan kakiku ke negeri China. Melihat keindahanMu dan mensyukuri nikmatMu dari negeri seberang..