July 24, 2007

nasehat seorang nenek

Ditengah kegalauanku menanti kereta yang kan membawaku ke Surabaya,
Ada seseorang yangmencoba berbincang padaku,
Awalnya aku tak ingin peduli, bahkan jujur, aku takut...
Seorang nenek tua berpakaian layaknya pengemis, berbekal kantung plastik dengan memegang puntung rokok yang menyala di sela jari telunjuk dan jari tengahnya,
Entah apa yang dilakukannya di stasiun kereta tengah malam itu, dimana kebanyakan orang lebih memilih untuk tidur nyenyak di rumah, tentu tidak termasuk aku saat itu..

Belum hilang rasa takutku, tiba-tiba ia berujar "Denok ayu, mbah ra' ngapusi, kabeh wong iso ndelok" (red : kamu cantik nak, mbah tidak bohong, semua orang bisa melihatnya)
Wajahku menunjukkan ekspresi bingung dan takut, tapi tetap tak lupa kuucapkan terima kasih atas pujiannya.

Akhirnya percakapan pun mengalir. Mungkin lebih cocok disebut ceritanyalah yang mengalir, karena aku lebih banyak diam dan mendengarkan kisah sang nenek ketimbang ikut menimpali.
Terungkaplah bahwa ia adalah seorang tukang pijat yang sudah hampir 10 tahun tinggal di stasiun, rumahnya dijual karena alasan ekonomi, dan sudah 10 hari terakhir ini ia tidak bekerja karena sakit yang dideritanya. Hanya flu biasa. Namun untuk orang seumurannya, penyakit itu telah menyita energinya, bahkan hanya untuk berjalan..
Ia pun mengeluhkan mahalnya harga nasi Padang yang harus ia beli tapi tak dimakannya karena mulutnya terasa pahit.

Ketika aku masih bergelut dengan rasa iba padanya, sang nenek mengeluarkan isi kantung plastiknya. Beberapa anggur merah dan roti. Ia pun berkata "ini buat nok, ambil saja. Kamu pasti lapar".
Dengan bahasa sehalus mungkin, aku menolak tawarannya. "Buat mbah aja, mbah kan belum sembuh betul". Tapi dalam hatiku, aku terenyuh.

Seorang nenek yang sedang sakit dan bisa dibilang tidak punya uang lebih untuk makan, dengan begitu ikhlas dan legowo membagi makanan miliknya dengan seseorang yang sama sekali tidak dikenalnya (red: aku)
Obrolan kami pun berakhir ketika keretaku tiba,
Akupun undur diri dan ia mendoakan aku agar selamat sampai tujuan,

"Semua akan baik-baik saja, asal kita ikhlas dan tawakal", ucapnya.
Kalimat itu selalu terngiang di telingaku, memenuhi ruang otak dan hatiku,
Tuhan...

Siapapun ia, terima kasih Engkau telah mengirimkan teman malam itu,
Tolong jaga ia baik-baik Tuhan...


Going back home...

Tak pernah menyangka aku akan melakukannya demi cinta,
Pada hari Jum'at di minggu ketiga di bulan Juli tepatnya tanggal 19 yang lalu,
Di menit-menit terakhir kegalauanku, usai membaca e-mail dari seorang teman mengenai kesiapan menjelang hasil assesment diumumkan,
Atas dorongan hati dan teman terdekat,
Aku memutuskan untuk pulang. Yup, pulang...

Dengan berbekal rasa nekat serta hati yang dag-dig-dug tak jelas bagaimana iramanya,
Akupun membeli tiket kereta jurusan Semarang-Surabaya yang berangkat malam itu juga, sekitar pukul 01.32 dini hari,

"Pulang??? naik apa??? jam berapa?? koq ndadak???", tanya Matahari.
"Iya, ntar malem naik Sembrani jam setengah dua", ujarku.
"Setengah dua??? trus ke stasiunnya naik apa?? kamu ati-ati ya, koq nekat sih??", kembali ia mengkhawatirkanku.
"Gampanglah, naik taksi bisa. Pokoknya besok pagi jemput yah...", jawabku meyakinkan.

Akhirnya, dengan mengumpulkan segenap keberanian aku berangkat ke stasiun naik taksi yang telah kupesan sebelumnya.
Namun ternyata, perjalananku tak semulus itu. Aku masih harus menunggu sekitar satu jam, karena kereta yang akan membawaku, terlambat tiba.
Dengan berbekal jaket dan novel yang tak kunjung habis kubaca, maka tepat pukul 02.25 aku meninggalkan stasiun Tawang menuju Surabaya...

Lelahku, kantukku, galauku, lenyap seketika...
begitu kulihat senyum matahari pagi itu yang menyambutku dengan penuh rasa bahagia...

"Honey, i'm home..."

July 13, 2007

Sendiri...

Ketika semua orang memiliki rencana hebat untuk akhir pekan mereka,
Aku hanya tersenyum simpul mendengarnya,
ketika semua orang berpikir untuk sedikit bersenang-senang,
Aku hanya mampu berangan-angan membayangkannya,
Disini, di sebuah ruang berukuran 2,7 x 1,8 meter persegi,
Bersama meja, kursi, lemari serta tempat tidur yang selalu setia menantiku kembali,
Disinilah aku berada...
Tak ada teman selain boneka monyet berwajah bodoh yang dijuluki "mat solar" dan bantal hati berhias monyet dari seorang terkasih yang diberi nama "john lennon"...
Sebut aku bodoh, karena tidak berteman dengan warga kost-kostan,
Tapi memory-ku tak sanggup untuk mengingat 35 nama penghuni kost-kostan dalam waktu sekejap,
Sebut aku tidak kreatif, karena tidak memiliki ide-ide cemerlang untuk berakhir pekan,
Tapi otakku sudah penuh dengan segala macam keinginan namun tak ada teman untuk kuajak mewujudkannya,
Sebut aku egois, sebut aku posesif,
Tapi aku hanya ingin ditemani...
Aku lantas berpikir dan berpikir...
Apakah aku masih dianggap ada?
Atau, jikalau aku menghilangpun,
Apakah itu akan merubah segalanya?
Sembari memeluk john lennon, aku tertidur dalam tangis...

July 11, 2007

semoga Engkau mendengarku

Tuhan,
Malam ini kududuk dan bersimpuh,
Menengadahkan kepala dan tanganku,
Memanggil-Mu berulang-ulang...

Tuhan,
Tangisku tak sanggup kuhentikan,
Sepanjang ku panjatkan do'a,
Memohon pada-Mu terus dan terus...

Tuhan,
Tak lelah kumeminta,
Ringankanlah langkahku berjalan,
Demi menyambut hari
Tanpa rasa takut dan kalut sedikitpun di hati...

Tuhan,
Diatas sajadah panjang ini kembali kubersujud,
Pada-Mu Yang Maha Segalanya,
Pintaku tak banyak,
Bahagiakanlah ayah bundaku...

July 10, 2007

Surat untuk Tuhan

Ditengah kesibukan gw yang ga jelas ini,
Ditambah dengan keterpurukan yang tiba-tiba semakin memaksa gw untuk berpikir dan berpikir,
Ga tau mau dibawa kemana semua masalah ini,
Ga tau mau berhenti dimana semua cobaan ini,
Smoga gw masih bisa terus bersabar dan bertahan,
Untuk dapat menguatkan semuanya,
Untuk selalu mencoba tersenyum dibalik semua ini,
God...really need your help...

July 02, 2007

married ???

married...nikah...
apa yang ada di benak loe kalo denger kata-kata itu?
Mungkin buat sebagian orang menikah adalah hal yang sangat membahagiakan. Hmmm...well..yeah...that's true. Tapi terkadang kalo kata-kata itu diucapkan terlalu sering kepada kita apalagi dengan embel-embel "tunggu apalagi...kan kerjaan udah enak.." ato "jadi kapan nyusul?" ato "trus kapan dilamar?, keburu umur loh...udah ada calonnya belum sih?" ato "koq masih sendirian aja?" aaargh....bisa gak sih gw ngejalanin hidup gw dengan santai tanpa ada beban yang bikin otak gw tambah puyeng??? benernya ortu gw ga pernah nanya ato ngeburu2 gw soal itu, thank God... tapi justru orang2 sekitar gw yang pada rese', ga bisa kalo liat gw luntang lantung sendirian.. padahal mereka kan ga tau aja gw udah punya calon ato gak. Belom lagi kalo tiap ketemu ato telphon2an sama temen lama yang ada kabar si anu merit-lah, resepsi-lah, hamil, punya anak, well...congratulations to all of you guys...bukannya gw ga kepengen, tapi banyak yg masih pengen gw lakuin sebelum gw masuk ke dunia nikah menikah yang lebih ribet lagi. Gw masih pengen nyenengin ortu gw, bikin ortu gw bangga, ngringanin beban ortu gw, banyak yang harus disiapin sebelum ngejalanin hal itu, materi, mental, hmmph...many things to do first...
Eniwei, ini bukan kebencian gw terhadap kata-kata itu, hanya perasaan yang kadang suka hinggap tiba-tiba di hati gw...
Moga-moga ada seseorang di belahan bumi yang lain yang bakal selalu setia nungguin gw sampai saatnya tiba...

ooh...dengarlah sayangku,
aku mohon kau menikah denganku,
hiduplah denganku,
berbagi kisah hidup berdua... (glenn fredly)