Dandanan ala koboi, sepatu runcing ujungnya
Celana jeans belel warna baby blue
Rambut klimis potongan tintin jaman sekarang
Lama juga ga liat kawanku yang satu itu, he’s become totally different now
Istilahnya ‘udah jadi anak gaul’
Kami pun bertemu kembali di sebuah ajang reuni kecil antar teman di Jakarta
Setelah ngobrol sana sini, perut kenyang, alih alih pulang karena ‘hari masih sore’, aku dan beberapa teman memutuskan untuk window shopping di mall itu
Tapi tiba-tiba si koboi nyeletuk,”aku ga ikutan ya, aku harus pulang”. Ntah setan apa yang merasukiku, akupun tanpa pikir panjang menimpali, “sapa yang harus pulang?? Kamu?? Ampun deehhh…malu ma rambut pulang jam segini..” dan tawa kawan-kawan pun meledak seketika.
Sorry..never meant to..
August 02, 2009
July 08, 2009
Pak Direktur
Alisha Marsudi. Anak perempuan kecil itu hanya bisa menangis tanpa henti. Entah karena dia haus, lapar, atau menangis sedih. Sedih meratapi kepergian Ayahnya yang begitu cepat.
Semua orang terhenyak. Kabar di pagi hari itu membuat semua orang merasa tidak percaya. Ia yang minggu lalu masih tampak begitu segar bugar, kini hanya bisa terbujur kaku tak berdaya di ruang tamu rumahnya. Rumah kecil itu pun mendadak penuh sesak oleh saudara, rekan, kerabat yang ingin melihatnya untuk terakhir kali.
Hari itu, 01 Juni 2009, keluarga besar BPS Pms & N 2007 kembali kehilangan salah satu anggotanya. Sosok pria yang selalu ramah pada siapapun itu menghembuskan nafas terakhirnya di RS MMC pukul 01.00 dini hari. Ia meninggalkan seorang istri dan bidadari kecilnya yang baru berusia 2 bulan.
So long Joko, semoga seluruh amal ibadahmu diterima Allah SWT dan dosa-dosamu diampuniNya. Kami akan menjaga Alisha untukmu. Selamat jalan Joko ’Pak Direktur’.. Doa kami menyertaimu..
-01st June 2009-
(in memoriam of Joko Marsudi, Gas & Domestik Pusat Jakarta)
Semua orang terhenyak. Kabar di pagi hari itu membuat semua orang merasa tidak percaya. Ia yang minggu lalu masih tampak begitu segar bugar, kini hanya bisa terbujur kaku tak berdaya di ruang tamu rumahnya. Rumah kecil itu pun mendadak penuh sesak oleh saudara, rekan, kerabat yang ingin melihatnya untuk terakhir kali.
Hari itu, 01 Juni 2009, keluarga besar BPS Pms & N 2007 kembali kehilangan salah satu anggotanya. Sosok pria yang selalu ramah pada siapapun itu menghembuskan nafas terakhirnya di RS MMC pukul 01.00 dini hari. Ia meninggalkan seorang istri dan bidadari kecilnya yang baru berusia 2 bulan.
So long Joko, semoga seluruh amal ibadahmu diterima Allah SWT dan dosa-dosamu diampuniNya. Kami akan menjaga Alisha untukmu. Selamat jalan Joko ’Pak Direktur’.. Doa kami menyertaimu..
-01st June 2009-
(in memoriam of Joko Marsudi, Gas & Domestik Pusat Jakarta)
April 19, 2009
hanya aku
Aku akan selalu mendengarmu
Aku akan terus mencoba mengertimu
Tapi jangan paksa aku
Untuk tahu segalanya
Aku tak perlu maafmu
Aku tak ingin terimakasihmu
Aku hanya minta rasa sabarmu..sedikit saja..
Untuk mengerti aku dan menahan egomu..
Karena aku hanyalah aku
Karena aku bukan si jenius Einstein
Karena aku tidak selalu punya jawaban untukmu..
Aku akan terus mencoba mengertimu
Tapi jangan paksa aku
Untuk tahu segalanya
Aku tak perlu maafmu
Aku tak ingin terimakasihmu
Aku hanya minta rasa sabarmu..sedikit saja..
Untuk mengerti aku dan menahan egomu..
Karena aku hanyalah aku
Karena aku bukan si jenius Einstein
Karena aku tidak selalu punya jawaban untukmu..
March 31, 2009
Gejolak Kawula Muda
Lama hal ini ga gw rasain. Ntah kenapa gw jadi begitu excited buat nonton perhelatan besar Java Jazz 2009. Padahal awalnya keinginan itu cuma menthok sampe kepingin doang. Mungkin karena akhirnya ada kesempatan dan kawan yang menemani.
Gejolak itu dimulai sejak gw dapet tawaran buat nemenin temen dari Bandung nonton acara itu dengan membayar setengah dari harga regular ticket. Kebetulan memang gw sedang berada di jakarta alias lagi ga dinas luar kota. Obrol sana sini diputuskan bahwa peserta bertambah 3 orang lagi. Waaaa...seruuu...Cuma, berhubung gw yang soooooo excited, jadilah gw yg harus cari2 tiket buat mereka bertiga. After browsing 2 hari, gw dapet tiket daily pass seharga 500 ribu buat 2 orang, karena ternyata temen gw yang satu batal nonton. Eh, gw ga beli di calo lho..gw beli punya orang yang ga jadi nonton. Trus bela-belain antri tiket buat gw sendiri yang setengahan ma temen gw for 1,5 hours. Pfiuhh..thanks to gochay udah nemenin :)
Dan akhirnya, the Big Day!!! 4 girls went out to concert. It’s like some college girls had a girl nite out. Brought some euphoria to the world… singing, laughing, hang out together… berpindah dari satu hall ke hall yang lain, mencari cari jadwal pertunjukan untuk kemudian menentukan strategi yang cukup baik sehingga kami bisa melihat seluruh performance terbaik, tiring but quite fun.
Di perjalanan pulang kami pun membuat kesepakatan kecil bahwa kami akan datang lagi tahun depan. Semoga.
Gejolak itu dimulai sejak gw dapet tawaran buat nemenin temen dari Bandung nonton acara itu dengan membayar setengah dari harga regular ticket. Kebetulan memang gw sedang berada di jakarta alias lagi ga dinas luar kota. Obrol sana sini diputuskan bahwa peserta bertambah 3 orang lagi. Waaaa...seruuu...Cuma, berhubung gw yang soooooo excited, jadilah gw yg harus cari2 tiket buat mereka bertiga. After browsing 2 hari, gw dapet tiket daily pass seharga 500 ribu buat 2 orang, karena ternyata temen gw yang satu batal nonton. Eh, gw ga beli di calo lho..gw beli punya orang yang ga jadi nonton. Trus bela-belain antri tiket buat gw sendiri yang setengahan ma temen gw for 1,5 hours. Pfiuhh..thanks to gochay udah nemenin :)
Dan akhirnya, the Big Day!!! 4 girls went out to concert. It’s like some college girls had a girl nite out. Brought some euphoria to the world… singing, laughing, hang out together… berpindah dari satu hall ke hall yang lain, mencari cari jadwal pertunjukan untuk kemudian menentukan strategi yang cukup baik sehingga kami bisa melihat seluruh performance terbaik, tiring but quite fun.
Di perjalanan pulang kami pun membuat kesepakatan kecil bahwa kami akan datang lagi tahun depan. Semoga.
March 13, 2009
Premanisme Makassar
Ada untungnya juga aku ikut dalam tim master program. Setidaknya aku bisa mengunjungi kota-kota yang belum pernah aku kunjungi sebelumnya. Dan yang mendapat giliran kali ini adalah Makassar.
Sore itu, sepulang dari berkeliling ke Pulau Kahyangan, bersama seorang rekan, kami berinisiatif untuk menikmati senja di Pantai Losari. Kebetulan kami menginap tepat di pinggir pantai itu. Kami pun menyempatkan diri untuk membeli Pisang Epe’ yang ternyata memang enak. Pisang panas yang disiram dengan gula merah cair dan dicampur aroma durian. Cukup unik.
Tapi ternyata penganan khas Makassar itu tidak bisa kunikmati dengan lahap. Saat aku dan temanku baru akan menikmati penganan itu, tiba-tiba muncul 2 orang anak kecil meminta-minta. Awalnya kami cuek, namun lama kelamaan mereka cukup mengganggu dengan tidak mau pergi dari tempat kami duduk. Temanku pun merogoh kocek 1000 perak untuk anak-anak itu. Hasilnya sama saja. Entah kenapa mereka betah sekali menunggui kami. Aku pun melanjutkan acara makan pisang epe’ku. Baru setengah kugigit, mendadak aku dikerubutin hampir 10 orang anak kecil yang entah dari mana datangnya yang mencoba meminta-minta kepadaku. Tidak hanya uang. Mereka juga menginginkan pisang epe’ku. Karena merasa jiwaku terancam, akhirnya aku pasrahkan sisa pengananku kepada mereka termasuk yang sudah kugigit setengah tadi.
Mendadak aku merasa ngeri. Apakah ini salah satu bentuk premanisme terhadap kaum pendatang di Makassar, atau memang seperti inilah kondisi kemiskinan dan kelaparan di sana sampai-sampai mengesampingkan etika dan adat kesopanan ?
Sore itu, sepulang dari berkeliling ke Pulau Kahyangan, bersama seorang rekan, kami berinisiatif untuk menikmati senja di Pantai Losari. Kebetulan kami menginap tepat di pinggir pantai itu. Kami pun menyempatkan diri untuk membeli Pisang Epe’ yang ternyata memang enak. Pisang panas yang disiram dengan gula merah cair dan dicampur aroma durian. Cukup unik.
Tapi ternyata penganan khas Makassar itu tidak bisa kunikmati dengan lahap. Saat aku dan temanku baru akan menikmati penganan itu, tiba-tiba muncul 2 orang anak kecil meminta-minta. Awalnya kami cuek, namun lama kelamaan mereka cukup mengganggu dengan tidak mau pergi dari tempat kami duduk. Temanku pun merogoh kocek 1000 perak untuk anak-anak itu. Hasilnya sama saja. Entah kenapa mereka betah sekali menunggui kami. Aku pun melanjutkan acara makan pisang epe’ku. Baru setengah kugigit, mendadak aku dikerubutin hampir 10 orang anak kecil yang entah dari mana datangnya yang mencoba meminta-minta kepadaku. Tidak hanya uang. Mereka juga menginginkan pisang epe’ku. Karena merasa jiwaku terancam, akhirnya aku pasrahkan sisa pengananku kepada mereka termasuk yang sudah kugigit setengah tadi.
Mendadak aku merasa ngeri. Apakah ini salah satu bentuk premanisme terhadap kaum pendatang di Makassar, atau memang seperti inilah kondisi kemiskinan dan kelaparan di sana sampai-sampai mengesampingkan etika dan adat kesopanan ?
System vs Tolerance
Awalnya aku ga pernah minat untuk tahu apa dan berapa penilaian atasanku terhadapku. Tapi mendadak siang itu, secara tidak sengaja ketika aku diminta untuk mendistribusikan penilaian seluruh pekerja aku pun tergelitik untuk mencari tahu. Perlahan kususuri nama-nama yang tertulis di daftar itu, yup. Disitu. Aku melihat namaku. Tapi tunggu dulu, berulang kali aku memastikan bahwa benar namaku yang tertulis di baris itu. 4 …??? Tak hentinya aku bertanya pada diriku sendiri apa yang salah pada diriku sehingga aku bisa mendapat nilai itu. Rekan kerjaku pun mencoba menjelaskan bahwa iapun tidak setuju dengan angka tersebut, meskipun ia pribadi memperoleh angka 6, diatas rata-rata. Dampak kurva distribusi normal ujarnya. Level kami ternyata di sejajarkan dengan para kepala lokasi yang menurut “pihak penilai” tidak layak apabila seorang kepala mendapat nilai buruk / dibawah rata-rata, jadi kamilah korbannya. Namun, kenapa aku harus disejajarkan dengan orang-orang yang kerjanya ga jelas, lebih banyak main games dan nonton b*k*p bahkan lebih rendah ketimbang seorang sekretaris yang notabene-nya hanya melakukan pekerjaan administrative.
Belum lagi pra syarat untuk mengikuti beasiswa S2, Transformation Leadership, dan hal-hal yang berkaitan dengan pengembangan karir adalah “diharamkan nilai 4”. Lantas, apakah ini tidak sama saja dengan mematikan karir orang ???
Untuk apa digembar gemborkan bahwa penilaian dilakukan secara online, fair menggunakan system jika ujung-ujungnya masih ada pembicaraan yang justru bisa mengubah nilai itu sendiri ?
Untuk apa aku harus bekerja keras, pulang larut menyelesaikan pekerjaan, jika aku hanya dihargai dengan angka 4 ? mungkin sebaiknya aku perbanyak main games, nemplok dari meja satu ke meja lainnya, berhahahihi dengan para atasan sudah cukup mendapat angka 4 atau justru lebih.
Apakah mereka tidak pernah berpikir bahwa ini semua dapat mempengaruhi psikis pekerja ? hanya karena aku anak baru apakah harus seperti itu perlakuannya ? kenapa semua orang harus mendewakan sebuah kurva distribusi normal demi dianggap fair dalam memberi nilai kepada pekerja ? dimana penghormatan kita terhadap system yang kita buat sendiri ? aku semakin bingung, antara ketidakpercayaanku pada kemampuan diriku dengan ketidakberdayaanku untuk menerima semua keputusan ini. Masih dapatkah ini diubah ? kenapa tidak ada yang menolongku ? tidak layakkah aku berada disini ? tidak diinginkankah aku disini ?
Terlalu banyak pertanyaan yang ada di otakku.
Belum lagi pra syarat untuk mengikuti beasiswa S2, Transformation Leadership, dan hal-hal yang berkaitan dengan pengembangan karir adalah “diharamkan nilai 4”. Lantas, apakah ini tidak sama saja dengan mematikan karir orang ???
Untuk apa digembar gemborkan bahwa penilaian dilakukan secara online, fair menggunakan system jika ujung-ujungnya masih ada pembicaraan yang justru bisa mengubah nilai itu sendiri ?
Untuk apa aku harus bekerja keras, pulang larut menyelesaikan pekerjaan, jika aku hanya dihargai dengan angka 4 ? mungkin sebaiknya aku perbanyak main games, nemplok dari meja satu ke meja lainnya, berhahahihi dengan para atasan sudah cukup mendapat angka 4 atau justru lebih.
Apakah mereka tidak pernah berpikir bahwa ini semua dapat mempengaruhi psikis pekerja ? hanya karena aku anak baru apakah harus seperti itu perlakuannya ? kenapa semua orang harus mendewakan sebuah kurva distribusi normal demi dianggap fair dalam memberi nilai kepada pekerja ? dimana penghormatan kita terhadap system yang kita buat sendiri ? aku semakin bingung, antara ketidakpercayaanku pada kemampuan diriku dengan ketidakberdayaanku untuk menerima semua keputusan ini. Masih dapatkah ini diubah ? kenapa tidak ada yang menolongku ? tidak layakkah aku berada disini ? tidak diinginkankah aku disini ?
Terlalu banyak pertanyaan yang ada di otakku.
Subscribe to:
Posts (Atom)